Jago nya Produk lokal go Internasional
Background Image

Alternatif Solusi Masalah Klasik UMKM

Oleh: Radityo Handrito (@dosenmumet)

Sepanjang pengalaman saya mendampingi, berinteraksi, dan menjalani usaha bersama pelaku UMKM di wilayah Jawa Timur, ada dua masalah klasik yang selalu diungkapkan para pelaku UMKM terkait usahanya yang stagnan dan tidak berkembang. “Modal dan Pasar”. Dua kata itu merupakan template yang sering saya dengar. Jika pertanyaan tersebut dilanjutkan dengan “kenapa tidak meminjam di Bank?”, jawaban umum yang muncul adalah “tidak berani dan ditolak karena tidak layak”. Kalau dikejar lebih jauh dengan pertanyaan “kenapa tidak berani?’ dan “kenapa ditolak”, maka jawaban saling menyalahkan pihak pemerintah dan bank atau lembaga keuangan lah yang muncul dalam diskusi. Pertanyaan selanjutnya justru membuat para pelaku UMKM berpikir, “memangnya kalau sudah punya modal tahu mau jual ke mana?”, “Memangnya kalau punya pasar bagaimana modal kerjanya?”.

Dalam tulisan ini saya ingin membagi pengalaman dan solusi dari masalah klasik tersebut. Penerapan teori marketing dan informasi dari seorang analis kredit di perbankan yang saya ceritakan berikut mungkin dapat membuka perspektif baru bagi pelaku UMKM.

Telur atau Ayam

Mana yang lebih dulu ada? Telur atau Ayam?. Pertanyaan tersebut dapat menjadi pembahasan yang tak kunjung usai jika kita tidak membatasi rumusan masalahnya. Sama hal-nya dengan pertanyaan “Modal atau Pasar yang lebih dulu harus ada?”. Jawabannya tidak ada yang lebih dulu dan tidak ada yang lebih akhir. Semuanya sama-sama penting, tergantung kondisi dari pelaku usaha. Untuk memahami modal dan pasar ada baiknya kita pahami dulu arti masing-masing.

Modal, menurut pemahaman awam selau dikaitkan dengan sejumlah uang maupun aset atau semua yang terlihat yang dapat digunakan untuk menjalankan usaha. Pemahaman tersebut dapat dibenarkan dalam tataran normatif. Siapa pula yang dapat memulai usaha tanpa adanya uang atau peralatan, entah itu milik sendiri atau pinjam, yang pasti harus ada modal. Sampai pada era 2000an, definisi modal tidak lagi terkungkung pada hal yang berwujud, tetapi juga pada hal yang tidak berwujud seperti kekayaan intelektual, paten, kreatifitas, hingga konsep bisnis yang masih di atas kerta. Intinya semua sumber daya yang memiliki potensi adalah modal bagi pemilik UMKM. Namun modal yang saya bahas dalam tulisan ini fokus kepada modal keuangan yang selama ini menjadi keluhan para pelaku UMKM, khususnya modal dari pihak perbankan.

Konsep berikutnya adalah pasar yang secara umum akan diterjemahkan dalam kegiatan pemasaran. Kegiatan pemasaran bukan hanya mengenai menjual (selling) kepada pembeli. Menjual merupakan bagian dari pemasaran. Lantas, apakah pemasaran itu?. Pemasaran adalah sebuah proses bagaimana seorang produsen menciptakan, menginformasikan, dan menghantarkan nilai kepada konsumen, serta sebaliknya, produsen pun membutuhkan sebuah nilai dari seorang konsumen, yang diwujudkan dalam bentuk uang.

Nah, karena kita membicarakan mengenai pelaku UMKM yang membutuhkan modal dari perbankan untuk mencari pasar atau sebaliknya pelaku UMKM yang membutuhkan pasar untuk menyalurkan modal, maka kita harus memahami nilai apa yang ingin didapat oleh masing-masing pihak. Pertanyaan mengapa kredit ditolak dan mengapa bank tertarik untuk menawarkan kredit, dapat dijawab dengan memahami nilai tersebut.

Jika usaha kita memiliki prospek pasar cerah, potensi keuntungan yang baik, dan keberlanjutan jangka panjang, maka usaha anda memberikan nilai yang diinginkan oleh pihak perbankan. Lho, kok bisa?. Ya tentu bisa, karena pihak bank membutuhkan debitur sebagai sarana penyaluran kredit yang pada akhirnya menjadi pemasukan dari bank. Jadi sederhananya, kredit itu adalah jualannya bank. Mereka akan mencari “pembeli” yang mampu membeli barang dagangan mereka.

Begitu juga sebaliknya, jika ada sebuah bank yang memiliki tingkat bunga rendah, pengajuan yang mudah, dan akses layanan terintegrasi. Maka pelaku usaha juga akan tertarik untuk membeli nilai-nilai tersebut. Sehingga dapat disimpulkan keduanya saling membutuhkan.

Kembali kepada pasar dan modal, mengapa keduanya sama-sama penting? Karena keduanya sama seperti bank dan pelaku usaha. Seorang pelaku usaha harus mampu memasarkan nilai-nilainya agar mampu ditangkap dan dibeli oleh pihak bank. Pihak bank pun harus menawarkan nilai-nilai yang diinginkan oleh pelaku UMKM.

Memasarkan nilai yang baik untuk pelaku UMKM.

Pada saat pengajuan kredit dilakukan, maka serangkaian proses seleksi dan analisis dilakukan oleh pihak bank. Pengajuan yang tidak memenuhi nilai akan ditolak, sedangkan yang menawarkan nilai akan diterima. Kelemahan umum dari pelaku UMKM adalah belum mampu menawarkan nilainya kepada bank. Nilai yang dimaksud adalah adanya laporan keuangan yang rapi (tidak harus rumit, tetapi cukup rapid an konsisten). Laporan keuangan ibarat sebuah katalog produk. Pihak bank akan melihat apakah produk-produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan perbankan. Maka langkah awal bagi pelaku UMKM adalah belajar membuat laporan keuangan sederhana. Kok sederhana? Iya, cukup yang sederhana saja karena pihak bank lah yang akan membuat perhitungan rumitnya. Namun jika ada laporan keuangan yang lebih lengkap, maka pembeli akan lebih senang terhadap produk anda. Maka sekalipun anda punya modal (produk anda bagus), tapi pengelolaan keuangan anda jelek (nilai nya tidak dapat diterima dengan baik oleh bank), maka dapat dipastikan kredit anda ditolak. Ini lah alasan mengapa modal dan pasar itu sama-sama penting. Konsumen kita bukan hanya pembeli produk, tetapi setiap pihak yang menikmati nilai dari usaha kita. Tips menarik dari seorang analis kredit adalah, ajukan kredit di akhir tahun, konon katanya pada waktu-waktu itu pihak bank pun sedang dikejar setoran. Tinggal lampirkan laporan keuangan yang baik, tunjukkan kesungguhan dan prospek pasar yang cerah, ditambah dengan doa sepnuh hati. Pengajuan modal kerja akan disetujui.

Pasar konsumen harus bagaimana?

Jika modal dana sudah didapat, maka pasar juga harus didapat pula. Satu dasawarsa terakhir merupakan masa perkembangan model pemasaran yang paling pesat disbanding decade-dekade sebelumnya. Perkembangan teknologi informasi memungkinkan proses pemasaran dapat dilakukan tanpa henti, di mana saja, dan oleh siapa saja. Pemasaran konvensional secara perlahan digeser oleh teknologi informasi. Sampai saat ini, belum banyak studi yang menyebutkan kegagalan pemasaran online, terlebih di Negara berkembang.

Perubahan budaya dan teknologi membuat cara pandang masyarakat terhadap sebuah bisnis juga ikut berubah. Konsep masyarakat global membuat setiap konsumen dan setiap produksen saling terkoneksi antara satu dengan yang lain. Efisiensi dan kebersamaan menjadi sebuah penggerak yang bergulir semakin cepat setiap harinya. Salah satu konsep yang sering disampaikan Prof Rhenald Kasali adalah sharing economy. Konsep ini memberikan pola pikir bahwa untuk menjalankan roda bisnis tidak harus dilakukan sendiri-sendiri, tetapi bisa dilakukan secara bersama-sama untuk kepentingan yang lebih besar.

Bagi pelaku UMKM ada baiknya mengadopsi konsep sharing economy. Sudah tidak lagi saatnya setiap pelaku UMKM saling bersaing dan membunuh untuk berebut keuntungan. Perlu disadari bahwa setiap pelaku UMKM memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang harus dilakukan adalah menutupi kekurangan masing-masing dengan kelebihan yang dimiliki pihak lain, dengan kata lain kolusi.

Kenapa harus kolusi di Kota Malang?. Karena pesaing kita saat ini bukan hanya di sekitar Malang, tetapi juga seluruh asia. Daripada bertarung melawan saudara sendiri, maka lebih baik bersatu dan berjuang menghadapi musuh yang lebih besar. Konsep sentral usaha yang dulu pernah dicetuskan perlu dikembangkan ulang. Dinoyo dengan keramiknya, sanan dengan keripik tempenya, pujon dengan susu sapinya, dan sentra-sentra lain harus disatukan menjadi integrated marketing program. Tidak harus berupa lokasi fisik, tetapi mulai merambah dunia maya. Salah satu portal untuk membentuk integrated marketing program adalah UMKM Jagoan. Kehadiran portal-portal pemasaran UMKM yang mengadopsi teknologi informasi perlu didukung demi menjawab tantangan MEA yang sudah kita jalani. Lalu, masih mau berdebat tentang ayam dan telur??.

admin

bikinwebsiteonline@gmail.com

No Comments

Post a Comment

You dont have permission to register

Password reset link will be sent to your email